Hasil Riset, Nama Makanan Tradisional Cerminkan Kearifan Lokal

Nama makanan tradisional di Jawa memiliki makna yang mendalam. Secara semiotis, nama-nama itu menggambarkan keyakinan dan harapan masyarakat penciptanya.

Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Dr Imam Baehaqie MHum mengatakan hal itu saat diskusi hasil penelitian, Rabu (31/1). Dalam kesempatan itu, Imam memaparkan hasilpenelitian terhadap nama-nama makanan yang lazim ditemui dalam upacara siklus hidup masyarakat di Wonogiri, Jawa Tengah.

Upacara siklus hidup tersebut meliputi tiga upacara utama yaitu upacara kelahiran (metu), pernikahan (manten), dan kematian (mati). Untuk menemukan makna nama-nama makanan tersebut Imam menggunakan pendekatan etnolinguistik.

Berdasaran penelitian tersebut ia menyimpulkan beberapa hal. Pertama, terdapat sembilan nama makanan dalam sesaji tingkeban, yaitu: tumpeng pitu, tumpeng bathok bolu, tumpeng playon, sega rogoh, sega gendhong, sega guyeng, jenang procot, jenang baro-baro, dan klapa gadhing.

Nama-nama tersebut dapat diklasifikasi ke dalam empat kategori, yaitu tumpeng, sega, jenang, dan jajanan. Kedua, pada leksikon nama-nama makanan sesaji selamatan tingkeban tercermin pemikiran pelaku sesaji yang berisi pesan moral yang adiluhung, yaitu adanya harapan keselamatan dalam kehamilan yang telah mencapai usia tujuh bulan.

Leave a Reply