Seminar “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif”

Minggu (10/4) Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unnes menyelenggarakan seminar bertajuk “Menuju Pengajaran Sastra yang Apresiatif”. Seminar yang diselenggarakan di gedung B1 106 ini diselenggarakan untuk mengenang 100 hari meninggalnya Bapak S.Suharianto, mantan dosen sastra di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unnes.
Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.30-12.30 WIB ini dihadiri oleh para guru, peminat sastra, dan mahasiswa. Pembicara dalam seminar tersebut adalah Sawali Tuhusetya (Sekretaris Agupena Jawa Tengah dan Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kab. Kendal), Teguh Wibowo (guru SMAN 2 Semarang), Achiar M. Permana (Redaktur Warta Jateng), dan Mukh Doyin (dosen pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Unnes).
Banyak hal yang dikaji dalam seminar tersebut. Poin pertama disampaikan oleh Sawali Tuhusetya. Sebagai ketua MGMP ia membagikan pengalamannya dengan mengkaji hubungan kesesuaian antara pengajaran sastra, kurikulum, dan kompetensi guru bahasa. Ia juga menjelaskan masalah “rabun sastra “ yang konon sudah menggejala di kalangan pelajar. “Jika dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, muatan sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampak lebih utuh dan komprehensif. Kalau muatan sastra dalam KTSP disajikan dengan baik, fenomena ‘rabun sastra’ yang konon sudah menggejala di kalangan pelajar kemungkinan besar akan dapat teratasi.” Senada dengan Sawali, Teguh Wibowo sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA N 2 Semarang mengungkapkan bahwa pengajaran sastra yang apresiatif harusnya diiringi dengan praktik tidak hanya sekadar teori. Hal ini akan sangat efektif jika Kompetensi Dasar (KD) lebih banyak diterapkan pada kelas X dan XI. Ia juga menambahkan bahwa pengajaran sastra dengan praktiknya akan mampu memberikan siswa keberanian dalam mengapresiasi sebuah tugas yang diberikan oleh gurunya. Selama ini siswa hanya diberi suguhan teori tanpa praktik, terlebih gurunya sendiri belum mampu berkarya.
Fenomena pengajaran sastra yang berkembang di sekolah tidak lepas dari keterampilan seorang guru, misalnya dalam hal menulis. Achiar M. Permana sebagai redaktur Warta Jateng mengungkapkan bahwa kebanyakan guru tulisannya tidak layak untuk dimuat di media. Bahkan, hanya sedikit guru yang mengirimkan tulisannya ke media massa. “Jika Anda ingin tulisan Anda diperhatikan oleh redaktur (opini) media massa, Anda harus menyediakan tulisan yang layak memperoleh perhatian.” Redaktur yang dulunya mantan wartawan Suara Merdeka ini juga menambahkan trik-trik tulisan yang sesuai dengan karakter media massa, yaitu aktual (media berkala terletak pada aktualitas), ringkas dan jelas, paragraf yang jelas (ada subjudul dengan paragraf yang jelas), pikirkan panjang tulisan (sekitar 4.000-7.000 karakter), gaya tulisan renyah, jangan abaikan format (cara penyajiannya), dan sertakan data diri singkat.
Selain lingkup sekolah dan media, pengajaran sastra juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sastra di universitas. Seorang guru maupun pengamat sastra akan terlahir dari kampus. Mukh Doyin sebagai Dosen Sastra FBS Unnes menyatakan bahwa “Jika konsep dan sistem telah kita pahami dengan benar, ternyata masih ada satu lagi syarat agar pengajaran sastra bisa mencapai sasarannya. Dalam bahasa Pak har, syarat itu berupa bahasa yang sederhana.” Ia juga membenarkan konsep kesederhanaan bahasa yang diberikan S.Suharianto. Penciptaan situasi lebih penting agar dalam pengajaran sastra siswa bisa merasa senang, bukan tertekan oleh teori-teori atau bahkan oleh bentuk-bentuk karya sastra itu sendiri. Dalam bahasa gojegan teori dan metodologi itu tidak begitu penting, yang penting hasil penelitiannya. Artinya, inti sebuah penelitian bukan terletak pada teori dan metodologinya, melainkan pada temuannya.
Gagasannya para pembicara selanjutkan ditanggapi dengan cukup apresiatif oleh semua peserta seminar. Ketika masuk sesi diskusi para peserta sangat antusias untuk menyampaikan pertanyaan kepada pembicara. Acara yang dikhususkan untuk mengenang almarhum S.Suharianto ini berjalan dengan lancar. Sebagai kritikus sastra ia telah memberikan konsep dan pemahan baru bagaimana cara mengajarkan sastra yang baik dan efektif.[Sudarmono]

Leave a Reply